Friday, October 24, 2008

MELESTARIKAN SEJARAH MEMBENAHI BUDAYA

MELESTARIKAN SEJARAH MEMBENAHI BUDAYA

Oleh : Hozaini*

Sejarah sebagai peninggalan yang sangat berharga.dan juga sejarah telah membuka wacana di depan mata kita. Sejarah perkembangan di dunia pemikiraan yang di pelopori bangsa Yunani dan bangsa Romawai telah cukup untuk kita jadikan perbandingan untuk mengambil hikmah ilmum pengetahuan. Kedua bangsa tadi sebagai contoh perkembangan ilmu pengetahuan di perkenalkan dengan cara melalui mengasah pemikiraan.
Suksesnya Yunani dan Romawai daalam memburu liarnya ilmu pengetahuan harus di jadikan pijakan agar kita tidak menutup mata pada kretifnya manusia yang bisa menjadikan nilai peradaban suatu bangsa tinggi dan perkembangan pun dspst di wujudkan untuk menjawab tantangan hidup manusia. Dan pada akhirnya yang ingin di capai oleh perkambangan ilmu pengetahuan adalah kainginan bersama untuk mensejahterakan rakyat, bahwa dengan ilmu pengetahuan dapat memberikan cara hidup yang lebih mudah si bawah kekuasaan ilmu.
Realita yang di lakukan bangsa Romawi dan Yunani hendaknya di ambil hikmah. Dari sejarah yang telah di wariskan mereka hendaknya kita mengkaji terhadap eksistensi ilmu pengetahuan yang telah bisa membuat suatu banngsa jaya peradaban pun semakin tinggi yang mengarah kepada nilai kemanusiaan mensejahterakan kahidupan. Tetapi perlu juga untuk diingat, bahwa dengan ilmu pengetahuan kadang kala bisa menjaaadi racun. Apabila tidak di pergunakan secara wajar. Hal yang demikian dapat diamati dalam realita bangsa yang jaya juga mengalami kehancuran dan keruntuhan, ketika ilmu disalahgunakan. Pemilik ilmu pengetahuan apabila hanya berontasi pada pada kemewahan dan kesenangan yang ahanya ingin memuaskan nafsu semata.
Sebenarnya betapa kita terharu ketika memikirkan cemerlangnya manusia ketika menghasilkan penemuan yang didapat dengan susah payah dan di tekuni tampa menghitung masa. Tetapi sekaraang justru digunakan untuk saling bertikai dan saling memperubutkan kekuasaan. Seandainya pemikir yang telah mewariskan ilmu pengetahuan mengetahui konsekwensinya akan seperti sekarang ini, apa yang diwariskan akan mendatangkan mala petaka, sungguh mereka akan menyesalinya. Karena mereka berusaha mendapatkan pengetahuan guna untuk menjawab gejala kehidupan, semisal penyakit dacari obatnya. Kemiskinan dicarikan solusinya dalam mensejahterakannnya untuk menjawab kemalaratan hidup daalam mengifisein guna menghasilkan yang lebih berarti.
Mengkaji perkembangan ilmu pengetahuan seakan-akan charisma ilmu pengetahuan semakin pudar dan hilang. Kita mungkin telah mengenal zaman Nenek Moyang yang sangat kreatif. Mereka sennua telah mewariskan pemikiran yang sangat kreatif dalam berpikir untuk menjwab kehidupan yang lebih mudah, mereka yang lebih dulu mengasah kerasnya batu sambil bertahan hidup dengan berburu. Dan hatri ini batu-batuan telah menjadi indah dan mahal sebagai perhiasan. Dan mereka yang mempelajari kita bercocok tanam, sehingga hari ini kita bisa menikmati kehidupan tampa harus berburu untuk mencari makan. Ketekunan mereka telah diwariskan untuk kita si negeri ini menjadi bangsa yang subur. Inilah sepintas potret terhadap ketekunan Nenek Moyang yang menemukan cara hidup yang sangat berarti dan diwariskan untuk kita semua, yang dialami mereka menjalani hidup sampai mereka menemukan tempat untuk menetap membangun komunitas kehidupan seprti kita sekarang ini.
Betapa terharunya andai kita berpikir pada ketekunan Nenek Moyang yang telah menjadi kisah dalam mencari dan mempelajari kehidupan. Mereka semua dengan ketekunannya menjalani khasanah ilmu pengetahuan dari sebutir benih ditekuni becocok tanam menghidupkan alam, mereka tampa bertanya-tanya untuk siapa berusaah dengan keras. Dan yang paling membuat kita terharu, betapa keikhlasan mereka tiada bisa digambarkan di zaman sekarang ini. Mereka tak pernah memperhitungkan pamrih untuk siapa dia menekuni pengetahuan.
Tetapi realita semangat dan keseriusan yang dialami Nenek Moyang patut dipertanyakan oleh kita sekarang ini yang tidak kekurangan suatu apapun, tetpi kenapa sendi-sendi yang diwariskan mereka tidaak pernah menjadi peluang dalam hidup kita?. Kreatif seperti mereka yang tak mengenal keadilan dan peradaban. Tetapi mereka punya hati nurani yang tidak dikejar hirarkhi untuk hidup mewah dan ambisi jadi penguasa bumi seperti manusia zaman sekaranng ini.
Kemanakah ketulusan yang diwariskan Nenek Moyang?. Siapakah yang telah merampas sejatinya hati dalam ketulusan ikhlas yang murni. Inilah mungkin jika boleh penulis katakana ketidak seimbangan dalam membina nilai kebersamaan demi mewujudkan kesejahteraan, daan juga ketidaak seimbangan pendidikan antara hati, emosi dan nurani.
Kurangnya pemberdayaan menejemen pendidikan dalam membangun pondasi keimanan telah menjadikan ilmu pengetahuan jadi racun dalam kehidupan dizaman sekarang ini. Pemegang ilmu pengetahuan sekarang ini sama sekali tidak mencerminkan sunber inspirasi rasa tanggung jawab pada diri sendiri, masyarakat dan lingkungan persaudaraan manusia.
Keretakan manusia zaman sekarang ini bukan karena tidak adanya ilmuwan dan orang pintar didalam bangsa ini, tetapi sekali lagi apabila ilmu tidak digunakan secara wajar bukan hanya satu manusia yang jadi korban, penduduk masyarkat bangsa akan merasakan semuanya secara merata. Apabila ilmu tidak dijadikan Ibu dalam membina kehidupan kebersamaan berbangsa dan bernegara.
Gejala yang telah menjadi teradisi di bangsa tercinta kita ini . pada hakikatnya terletak dalam mental pribadi yang tidak konsekoen dalam menjalankan ilmunya. Maka yang menjadi penting untuk saat ini adalah penanaman relefansi keimanan dijadikan pondasi ilmu pengetahuan untuk mengimbangi kebebasan radikalisme manusia yang bersifat individualistik. Jika hal ini sudah bisa diterapkan, kami yakin khazanah ilmu pengetahuan kembali bisa dijadika bendera kemenangan. Pertama sebagai penghargaan terhadap kretifnya manusia yang telah mewariskan kepada kita, sebagiai peninggalan sejarah yang sangat berharga yang takkan pernah bisa dibeli dengan nominal rupiah.
Semoga saja para ilmuwan bisa menyadarinya untuk menjadi pembebas dalam pembaharuan seperti tekad para pahlawan ketika membebaskan bangsa ini. Supaya usia kemerkaan bangsa ini bisa mendewasakan masyarakat bangsa. Dan kami berharap semoga tak ada lagi pertanyaan untuk bertanya kemerdekaan. Seperti pertanyaan anak bangsa yang terus bertaanya?, " lapukkah sudaah tiang bendera bangsa, pahlawan bertaruh raga mengusir penjajah. Tapi kenapa engkau menjadi srigala yang merusak dan menghinakan martabat bangsa. Bosankah kau bernaung dibawah sayap Garuda Pancasila?. Atau agama kau anggap sangkar neraka. Sehingga kehidupan buta menilai fenomena masyarkat bangsa. Kemiskinan terus terlantar dan kekarasan semakin mengakar. Karena engkau pintar hanya berorentasi pada perebutan jabatan kamudian tidak ada keadilan.



Hozaini adalah Mahasiswa UIN Malang Fakultas Tarbiyah
Aktif di berbagai organisasi Kampus, diantaranya:
Jurnalis kampus, sebagai pengelola kolom sastra
Pengelola kajian diskusi forum lingkar study islam kampus Malang
Pendiri Lingkar Seni (UI, Unlimited Imagination) UIN Malang.

No comments:

Followers